Sabtu, 21 Januari 2012

Kisah di Negeri 1001 Gelar


Gelar oh gelar... Padahal orang-orang besar yang mengubah peradaban dunia justru tiada bergelar, tetapi mengapa manusia begitu bangga dengan yang namanya gelar. Gelar ibarat sebuah nyawa dalam hidup, tanpa gelar sepertinya seseorang tak kan pernah bisa hidup, tetapi mengapa justru mereka yang mengubah kehidupan dunia lebih banyak yang tidak bergelar.
Gelar oh gelar.... semua diukur dengan gelar.
Bahkan dalam semua aspek kehidupan, prestasi, kemampuan, isi kepala tidak lagi menjadi penting, jauh lebih penting memiliki gelar dan jumlah gelar yang dimilikinya.
Gelar oh gelar.... bahkan untuk mencari pasangan hidup pun dinegeri ini gelar menjadi persyaratannya.
Ya... isi kepala dan nilai kemuliaan manusia hanya diukur sebatas gelar.

Anda tidak boleh masuk kesini jika tidak bergelar anu, atau anda boleh mengikuti ini asalkan minimal bergelar setinggi ini, begitulah isi sebuah aturan main di negeri 1001 gelar.
Sehebat apapun prestasi anda dan sebesar apa pun jasa anda, anda tak akan pernah naik peringkat jika anda tidak mau menambah jumlah gelar yang anda miliki saat ini.
Begitulah pembatasan-pembatasan yang telah dibuat di negeri 1001 gelar.
Gelar..... oh gelar.... ya, gelar-gelar telah membuat sombong orang yang memilikinya, yang telah merendahkan  orang tidak memililinya dan yang telah membuat para orang tua begitu khawatir akan anak-anaknya.
Hingga berduyun-duyunlah orang berebut gelar, ya, karena segalanya diukur berdasarkan gelar.
Maka menyingkirlah segera pemikir-pemikir hebat dan orang-orang berprestasi di negeri itu jika anda tak bergelar.
Bahkan yang tak kalah luar biasanya adalah untuk menjalankan perintah Tuhan Yang Maha Agung sekalipun mereka belaum rela rasanya jika tidak menambahkan gelar setelah melakasanakannya.
Sungguh luar biasa. Tiada Tuhan selain Gelar. Itulah semboyan yang paling terkenal di negeri 110 gelar.
Begitulah kehidupan di negeri 1001 gelar... negeri ini semakin hari semakin terpuruk. Karena negara harus menanggung beban yang demikian berat terhadap orang-oarang yang tidak berprestasi tapi memiliki gelar yang berbaris mulai dari depan hingga dibelakang namanya.
Bahkan yang jauh lebih memprihatinkan lagi ternyata bahwa sebagian besar masyarakat di negeri 1001 gelar mulai lupa apa arti “Kemampuan Unggul”, apa arti “Prestasi” dan dari hasil temuan terakhir  diketahui bahwa di dalam kamus besar bahasa di negeri  1001 gelar juga sudah tidak membuat lagi kata-kata seperti “Prestasi”, “Kemampuan”, “Kinerja”, “Keahlian“, dan sejenisnya, melainkan telah diganti dengan rangkai daftar panjang gelar-gelar lama yang sebagian telah dikonversikan menjadi gelar-gelar baru yang semakin rumit dan membingungkan.
Begitulah Kisah di Negeri 1001 gelar, sebuah negeri yang pada akhirnya selalu diliputi oleh 1001 masalah dan 1001 bencana yang terus datang silih berganti.
Sungguh menakutkan akhir sebuah cerita dari sebuah negeri yang menganut paham Tiada Tuhan selain Gelar.
Ah... seandainya saja kita mau belajar dari negeri 1001 gelar ini mungkin kita bisa lebih cepat sadar dan bertobat.

Artikel Terkait :

Tidak ada komentar: