Sabtu, 31 Juli 2010

Memaknai Kembali Arti Sukses

Tidak diragukan lagi bahwa setiap orang tua pasti ingin anaknya menjadi orang yang sukses, namun sukses yang seperti apa...? inilah yang seringkali membedakan antara satu orang tua dengan orang tua lainnya dalam memaknai arti sukses bagi anaknya. 


Howard Gardner menerjemahkan arti sukses (berdasarkan Multiple Intelligence) sebagai keberhasilan dalam menemukan potensi keunggulan dirinya untuk menjadi yang terbaik dibidangnya dan berguna bagi diri sendiri dan orang lain. Hal ini didasarkan pada hasil pengamatan Gardner yang menemukan tidak sedikit jumlah orang yang dikatakan sukses secara finansial, namun hidupnya tidak bahagia. Hal ini disebabkan karena orang tersebut ternyata memilih profesi yang tidak sesuai dengan keinginan hati dan potensi terpendam yang dimilikinya. Jadi, meski diluar tampak berhasil mencapai target yang ditetapkan namun di dalam hatinya merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya.

Nah, apabila anda termasuk memiliki kondisi yang disebutkan di atas, mungkin perlu mengkaji ulang makna sukses yang anda miliki selama ini yang akan anda tetapkan bagi anak anda.

Sedangkan kunci sukses menurut ilmu Holistik adalah apabila anda merasa bahgia lahir batin dan berkecukupan secara finansial. Jika anda sukses secara finansial namun hidupnya tidak bahagia maka menurut pengertian holistik anda sesungguhnya baru mendapatkan setengah dari arti sukses yang sesungguhnya.

Bagaimana dengan kita dalam memaknai sukses?

Diakui atau tidak, tanpa sadar kebanyakan orang tua di negeri ini memaknai sukses sebagai orang kaya, memiliki banyak harta, hidup mapan dan terpandang dimasyarakat. Oleh karena itu dalam membimbing anaknya yang terpikir adalah bagaimana supaya nanti bisa mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar. Sejak awal dalam memilih sekolah diarahkan pada jurusan-jurusan yang bisa memberikan penghasilan yang besar dan bukan karena keahlian profesinya. Itu sebabnya ketika kita menanyakan tentang cita-cita kepada anak-anak kita atau anak-anak disekolah jawabannya...dokter, insinyur, pilot, arsitek, bankir.

Jika dirumuskan maka makna sukses kebanyakan masyarakat kita adalah Money – Money – Money – Happiness (M-M-M-H). Artinya adalah fokuslah pada penghasilan besar, gaji besar dan nanti kamu akan hidup bahagia. Sayangnya, pada kenyataannya tidak demikian.....!!! 

Lalu bagaimana sukses dimaknai...?

Uang / harta adalah sebuah efek dan bukan sebab dari sebuah kebahagiaan, mengapa? Karena apabila seseorang menyukai dan bahagia dengan apa yang dilakukannya maka ia akan menjadi sangat fokus dan memiliki totalitas yang tinggi terhadap apa yang dikerjakannya. Tentu saja totalitas yang luar biasa ini pada akhirnya akan membuat si anak menjadi orang yang paling ahli dibidangnya (Expertise) dan tentu saja jika ia berhasil menjadi orang yang terbaik dibidangnya dia akan mendapatkan konpensasi finansial yang berada jauh di atas kebanyakan orang rata-rata.

Jadi jika disimpulkan, urutan rumusnya adalah Happiness – Totality – Expertise – Money (H-T-E-M); kebahagiaan akan melahirkan totalitas sepenuh  jiwa, totalitas akan membuat seseorang menjadi ahli yang terbaik. Siapapun yang terbaik akan mendapatkan kompensasi finansial yanga sangat bagus.

Yang menarik adalah justru dengan menggunakan rumus sukses membimbing anak Happiness, Totality, Expertise, Money inilah kita dapat melihat bukti-bukti betapa banyak orang-orang yang begitu bahagia berprofesi diberbagai bidang yang sangat spesifik mualai ahli cacing, ahli nuklir, ahli black box pesawat sampai spesialis sampah. Mereka juga tetap mendapatkan finansial jauh melampaui penghasilan orang-orang yang menggunakan rumus sukses Money, Money, Money, Happiness,yang faktanya lebih banyak tidak memperoleh bayaran mahal dan juga tidak mendapatkan kebahagiaan dalam profesi pekerjaannya.

Steven Covey mengatakan bahwa hidup orang sukses selalu dimulai dengan menetapkan tujuan akhir

(Begining with The End). Pernyataan ini sangatlah realistis dan alamiah. Secara instingtif kita selalu melakukannya. Setiap kali kita hendak keluar rumah pasti yang pertama kita tetapkan adalah kemana kita akan pergi, bila tujuan agak jauh dan penting, maka langkah selanjutnya membuat tujuan itu menjadi lebih detail dan spesifik, misalnya dengan menuliskan alamatnya. Membuat rencana perjalanan mulai dari apakah kita akan menggunakan motor, mobil pribadi atau angkutan umum. Semua ini disesuaikan dengan kondisi yang terbaik untuk kita, rute mana yang akan dilalui untuk sampai lebih cepat dan nyaman selama perjalanan.

Begitu pula idealnya yang kita lakukan dalam membimbing anak-anak kita dalam menempuh perjalanan suksesnya. Mulai dengan menemukan dan menetapkan tujuan akhir dari sukses yang akan diraihnya. Dengan bertanya padanya bidang apa yang paling disukainya, aktivitas apa yang paling menyenangkan baginya sampai pada pertanyaan kelak jika sudah besar profesi apa yang membuatnya bahagia, terlepas dari perkiraan aspek finansialnya yang mungkin kurang menjanjikan. Mengapa kita orang tua perlu melakukan ini? Ingat rumus sukses sesungguhnya?

Namun sayangnya, kebanyakan anak kita belum memiliki tujuan yang jelas, tapi sudah diminta sekolah oleh orang tuanya. Persis seperti orang yang menyuruh anaknya pergi tapi tidak memberikan tujuan kemana dia harus pergi. Dan akhirnya anak tadi pergi tanpa tujuan yang jelas tanpa tahu kemana hingga pada suatu ketika akhirnya ia akan bingung sendiri. Hal ini sering dialami anak-anak kita yang duduk di kelas 3 SMA, mereka bingung, entah mau melanjutkan kemana dan mau jadi apa padahal mereka sudah bersekolah lebih dari 12 tahun.

Hal ini wajar karena memang selama ini orang tua dan sekolah tidak pernah bertanya pada mereka tentang rencana sukses hidupnya, melainkan hanya tiga hal berikut “ada PR atau enggak?”, “tugas kamu sudah selesai dikerjakan atau belum?”, “bagaimana hasil ulanganmu bagus atau jelek”.

Sehingga pada akhir perjalanan sekolahnya lulusan perguruan tinggi sekalipun belum memiliki tujuan yang jelas akan suksesnya, yang akhinya pula hanya memperpanjang deretan pengangguran. Atau ada juga yang nasibnya sedikit baik dengan berhasil mendapat pekerjaan dengan prinsip “kerja apa saja, yang penting kerja”.

Jika setiap anak Indonesia punya prinsip sukses “kerja apa saja  yang penting kerja” kita bayangkan jenis pekerjaan yang kelak masih tersisa baginya setelah pasar bebas terbuka. Sebuah keadaan yang memaksa anak-anak kita harus bersaing terbuka dengan anak-anak dari seluruh belahan dunia untuk memperebutkan peluang kerja di Indonesia.

Untuk mencegah agar nasib buruk tidak menimpa anak-anak kita  dan kesalahan sama tidak terjadi berulang-ulang dari generasi ke generasi, maka kita perlu mengubah prinsip kita dalam membimbing anak mencapai sukses yaitu dengan mengarahkan mereka untuk lebih dahulu menemukan tujuan akhir sukses hidupnya sebelum mulai melangkah. Atau dengan kata lain, temukan dulu ia ingin menjadi apa lebih spesifik (misalnya penyanyi, olahragawan, sutradara, penari, ilmuwan, pelukis atau politisi) baru mulai memilih sekolah/kursus/pendidikan mana yang cocok untuk bisa membawa ke cita-citanya dan sesuai dengan kemampuan.

Jika kita sudah sepakat akan hal ini, maka mulailah dengan merancang program stimulasi sekarang juga bersama anak kita.
Dikutip dari:
Apakah Anda Ingin Menemukan Potensi Unggul Anak Anda Sejak Dini,
oleh Widianto Setiono & Ayah Edy.

Artikel Terkait :

Tidak ada komentar: