Jumat, 23 Juli 2010

Benarkah Pengajaran CALISTUNG pada Usia Dini?

Menurut penelitian ilmiah, secara global kemampuan otak manusia yang berkaitan pembelajaran terbagi menjadi tiga hal besar. Pertama adalah kemampuan kreatif, kedua adalah kemampuan berfikir/nalar, dan ketiga adalah kemampuan mengingat.

Dari ketiga kemampuan ini, kemampuan mengingat merupakan kemampuan alami yang bersifat pelengkap, sementara kemampuan kreatif dan berpikir merupakan kemampuan utama dan vital yang akan membantu anak untuk mencapai sukses di kehidupannya kelak.

Keberhasilan hidup seseorang lebih banyak ditentukan oleh kemampuan kreatif dan berpikirnya ketimbang kemampuan mengingatnya, atau dengan kata lain kemampuan mengingat (short term memory) hanya pelengkap saja.

Namun sayangnya yang terjadi pada sistem pendidikan kita malah sebaliknya. Sejak dini anak-anak sudah dipaksa untuk bisa CALISTUNG, yang sesungguhnya hanyalah sebuah proses untuk mengembangkan kemampuan mengingat jangka pendek (short term memory learning).


Ternyata proses ini tidak hanya berhenti di usia dini saja, namun hingga dewasa mereka terus diajar dan diuji berdasarkan kemampuan mengingatnya dan bukan kemampuan kreatif atau nalarnya.

Sejak kecil kita juga tidak pernah diberi pertanyaan yang menggunakan nalar/berpikir seperti: Apa yang terjadi jika minyak bumi Indonesia habis?....Apa akibatnya? Ya, saat itu terjadi maka masyarakat kita menjadi panik. Karena sejak dulu tidak pernah dipertanyakan, apa lagi sempat dipikirkan.

Begitulah anak-anak kita telah dibesarkan dengan sistem pendidikan yang tidak melatih mereka untuk berpikir kreatif. Jadi wajar saja jika saat ini jumlah pengangguran baru dari lulusan akademi dan universitas terus membengkak. Sementara para pelajar lulusan SMA dan sederajat terus berebut menyerbu perguruan tinggi yang pada akhirnya juga akan menjadikan mereka hanya sebagai calon-calon pengangguran baru. Sayangnya ternyata mereka juga tidak menyadari hal ini, karena memang mereka tidak pernah dilatih untuk memikirkannya.

Sebuah catatan artikel menarik tentang membaca dan menulis menjelaskan sebagai berikut :

Anak yang diajari menulis dan membaca lebih awal ternyata membaca buku dan membuat tlisan jauh lebih sedikit daripada anak yang diajarkan baca dan menulis kemudian. Jauh lebih penting untuk menjaga rasa ingin tahu anak dengan mengembangkan kreativitas individualnya daripada mengajarinya untuk membaca dan menulis di usia dini.

Dan mungkin itulah sebabnya, kita semua, para orang tua yang dulu sejak kecil sudah di paksa untuk bisa membaca agar dianggap anak pintar dan mendahului anak lain, tetapi ironisnya kini malah menjadi orang tua yang jarang atau malas membaca. Apalagi untuk membuat tulisan.

Begini penjelasan ilmiahnya. Apabila yang pertama kali dirangsang adalah otak kreatif dan rasa ingin tahu anak, maka anak-anak akan menyimpan segudang pertanyaan yang membutuhkan jawaban. Semakin banyak yang ingin diketahui anak maka semakin besar pula usaha untuk mencari jawabannya. Oleh karena itu, keinginan anak yang terpendam tersebut akan meledak apabila kemudian dia baru diajari bagaimana cara membaca dan menulis. Maka anak ini akan menjadi keranjingan untuk membaca dan menulis karena begitu banyak pertanyaan yang harus segera dijawab dan begitu banyak pengetahuan baru yang harus dia tulis.

Namun sebaliknya, jika yang dirangsang pertama adalah cara membaca dan menulis, maka otak kreatif anak berhenti berkembang, sementara perkembangan otak kreatif anak ini tergantung dari rangsangan awalnya dan memiliki periode kritis hingga usia 12 tahun. Anak yang waktunya lebih terfokus untuk belajar membaca dan menulis sama sekali tidak memiliki ketertarikan, tidak punya pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab, oleh karenaya dia tidak banyak menggunakan kemampuan baca tulisnya.

Mungkin itulah alasan mengapa sistem pembelajaran di kebanyakan negara maju lebih mementingkan kreativitas daripada kemapuan memvbaca dan menulis pada anak-anak di usia dini.

Mari kita renungkan kembali, seperti apakah anak-anak kita di rumah dan di sekolah telah dididik?
Mari, mari bersama-sama kita ciptakan sistem pembelajaran yang mengasah kemampuan kreatif dan kemampuan berpikir anak! Bukan sekedar hafalan. Agar kelak mereka bisa melihat dan menciptakan peluang-peluang baru, bukannya melihat dan menciptakan masalah baru bagi bangsa ini!

Artikel Terkait :

Tidak ada komentar: